Pura Ulun Danu Bedugul

Asal kata Bedugul yaitu diperkirakan pada jaman dahulu ada seorang raja yang sedang mandi di Danau Beratan dan tak sengaja di lihat oleh warga sekitar, sambil mereka mengatakan bedogol Raja kelihatan. Itulah mengapa tempat wisata ini disebut Bedugul.Cerita lain sejarah asal usul nama di ambil dari kata dua kata yaitu "Bedug" karena adanya kelompok masyarakat Muslim di sekitar bedugul dan “Kul” dari Kul-kul yang merupakan alat komuniksi tradisional masyarakat Bali yang fungsinya hampir sama seperti kentongan. Penggabungan kedua kata itulah yang kemudian menjadikan nama daerah ini disebut Bedugul.

Pura Ulun Danu Beratan merupakan sebuah tempat di pulau bali terletak di daerah pegunungan yang memiliki suasana sejuk dan nyaman dengan balutan pepohonan tropis terpampang masih alami di depan mata, berkunjung ke sini, anda akan disuguhi pemandangan keindahan alam danau Beratan dan Pura Ulun Danu, terletak di Desa Candi Kuning, Kecamatan Baturiti, Tabanan. Jaraknya kurang lebih 70 km dari wilayah wisata Kuta atau Bandara Ngurah Rai. Bangunan pura dan stupa Budha di areal taman wisata Bedugul ini merupakan bangunan tempo dulu dan terbilang kuno, tapi semua keadaan fisiknya masih bersih dan tertata rapi karena pemeliharaan rutin.

Pura Ulun Danu yang merupakan tempat pemujaan kepada Sang Hyang Dewi Danu sebagai Dewi pemberi kesuburan, akan sangat sayang sekali kalau di lewatkan. Memang banyak wisatawan melakukan wisata tour selama liburan di Bali dengan tujuan Bedugul. Berbagai jenis buahan-buahan dan sayur mayur tumbuh begitu subur di daerah ini. Penduduk setempat menjual hasil kebunnya di pasar setempat dan juga di jual ke daerah lain di Bali.

Perkembangan Pariwisata Di Bedugul Hingga Saat Ini

Danau Bratan atau Bedugul adalah sebuah danau yang terletak di kawasanwisata yang terkenal di Bali. Danau yang terletak paling timur di antara dua danau lainnya yaitu Danau Tamblingan dan Danau Buyan, yang merupakan gugusan danau kembar di dalam sebuah kaldera besar, Danau Bratan terbilang cukup istimewa. Berada di jalur jalan provinsi yang menghubungkan Denpasar-Singaraja serta letaknya yang dekat dengan Kebun Raya Eka Karya menjadikan tempat ini menjadi salah satu andalan wisata pulau Bali. Di samping mudah dijangkau Danau Bratan juga menyediakan beragam pesona dan akomodasi yang memadai.Di tengah danau terdapat sebuah pura yaitu Pura Ulun Danu, yang merupakan tempat pemujaan kepada Sang Hyang Dewi Danu sebagai pemberi kesuburan.Sejarah Objek Wisata Danau Bedugul Dahulu danau tersebut hanyalah danau biasa, namun seiring dengan perkembangan jaman danau tersebut berubah menjadi kawasan wisata yang indah menarik. Hal tersebut dapat terjadi karena daya tarik Danau Bedugul sendiri.Pemerintah juga telah banyak membangun fasilitas yang dibutuhkan wisatawan dengan tidak merusak maupun merubah keasrianya.Kondisi Fisik Objek Wisata Danau Bedugul.Danau Bedugul memiliki pemandangan yang sangat indah dengan air danau yang berwarna hijau tua dan hawa yang dingin karena memang danau tersebut terletak dikawasan dataran tinggi. 

Di sana tersedia fasilitas permainan air yang cukup banyak dengan harga sewa yang relative terjangkau. Di sekitar danau terdapat banyak penjual buah dan pernak-pernik khas Bali. Kelebihan dan Kekurangan Objek Wisata Danau Bedugul, Bedugul memiliki keadaan yang bersih dan teratur. Kita bias berkeliling danau menggunakan perahu mesin yang harganya relative murah. Selain itu,kita juga bias menggunakan banana boat juga dengan harga yang murah. Untuk Mengetahui kekurangan Objek Wisata Danau Bedugul silahkan berkunjung ke tempat yang terletak di kawasan Bedugul, Desa Candikuning, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Bali.

Salah satu tempat wisata di Bedugul yang harus anda kunjungi adalah Kebun Raya. Kebun Raya Bedugul merupakan salah satu hutan lindung sebagai paru – paru udara pulau Bali. Tempat wisata Kebun Raya, udaranya sangat sejuk dan sangat cocok untuk tempat piknik keluarga. Ada beberapa spot menarik di Kebun Raya seperti:

  • Candi Bentar
  • Ramayana Boulevard
  • Kumbakarna Laga Statue
  • Roses Garden
  • Lake Beratan View
  • Usada Cafe
  • Traditional Balinese house

Di Kebun Raya Bedugul, terdapat aktivitas petualangan yang sangat disukai wisatawan mancanegara terutama anak-anak. Nama aktivitasnya adalah Bali Treetop.

Setelah lelah berjalan – jalan di kebun raya, jangan lupa singgah di pasar tradisional Candi Kuning. Tersedia bermacam-macam sayuran seperti wortel, sayur ijo, kembang kol dan tomat. Ada juga buah strawberry, salak, jeruk dan markisa segar hasil panen dari penduduk setempat. Banyak juga pedagang jagung manis rebus, yang mantap dinikmati dengan dinginnya udara pegunungan. Barang kerajinan khas Bali seperti ukir – ukiran, baju Bali, kain pantai juga banyak dijual di pasar ini.

Di sepanjang jalan menuju Kebun Raya Bedugul dan Danau Beratan, banyak dibangun penginapan dan restoran. Restoran tersebut menyediakan menu masakan Indonesia, seafood dan menu International. Harganya pun bervariasi. Pedagang makanan kecil dan pedagang acung juga terdapat di pinggir jalan di tepi danau. Obyek wisata ini sangat cocok bagi keluarga dan pasangan yang ingin berlibur ke Bali. Sebagian besar pelanggan kami, memilih untuk membeli paket tour ke Bedugul. Karena dengan membeli paket tour di Bali tanpa hotel, akan memudahkan pelanggan dalam berwisata.


Sejarah

Mengutip dari sebuah sumber, Sejarah berdirinya Pura Ulun Danu Beratan di desa candikuning Tabanan Bedugul terurai dalam Lontar Babad Mengwi tahun Saka 1556. Dahulu, tesebutlah seorang bernama I Gusti Agung Putu yang kalah perang dari I Gusti Ngurah Batu Tumpeng atau Ki Ngurah Kekeran. Sebagai tawanan, beliau diserahkan kepada I Gusti Ngurah Tabanan kemudian diserahkan ke patih Marga bernama I Gusti Bebalang. Kemudian untuk dapat bangkit dari kekalahan, I Gusti Agung Putu bertapa di puncak gunung Mangu sampai beliau mendapat pencerahan disana. Beliau kemudian turun gunung, mendirikan istana Belayu (Bala Ayu), kembali berperang melawan I Gusti Ngurah Batu Tumpeng dan menang.Dari kemenangan itu istana dipindahkan ke Bekak dengan nama Puri Kaleran. ditempat ini kemudian I Gusti Agung Putu mendirikan tempat pemujaan Taman Ganter dengan istana bernama Kawiapura. setelah berkali2 menang perang, termasuk membantu Raja Tabanan melawan musuhnya, seiring dengan berdirinya Kerajaan Mengwi, beliau mendirikan tempat pemujaan di tepi danau Beratan untuk memuja Batara di Pura Puncak Mangu. I Gusti Agung Putu yang merupakan pendiri Kerajaan Mengwi ini mendirikan sebuah pura di tepi Danau Beratan yang kini dikenal sebagai Pura ulun Danu Beratan.

Dalam Lontar Babad Mengwi juga dikisahkan bahwa pendirian pura ini dilakukan kira-kira sebelum tahun 1556 Saka atau 1634 Masehi, atau sekitar satu tahun sebelum berdirinya Pura Taman Ayun, sebuah pura lain yang juga didirikan oleh I Gusti Agung Putu. Pendirian Pura Ulun Danu Beratan konon telah membuat masyhur Kerajaan Mengwi dan rajanya, sehingga I Gusti Agung Putu dijuluki “I Gusti Agung Sakti” oleh rakyatnya.


Pembagian Pura Berdasarkan Fungsi

Fungsi dari Pura ulun Danu Beratan ; Keberadaan suatu Pura pada awal pendiriannya sangat memiliki tujuan yang utama dalam pencetusan hati nurani yang terdalam suatu kelompok sosial yang religius, begitu pula khusus dengan Pura ulun danu Beratan memiliki beberapa fungsi, yaitu:

Fungsi Umum

Adapun fungsi Pura Ulun Danu Beratan secara umum adalah sebagai pemujaan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan berbagai Prabhawa-Nya. Dapat dibuktikan bahwa di Pura ini terdapat pelinggih Padma Sana yang berfungsi sebagai tempat pemujaan Ida Sang Hyang Widhi dan panggih-palingih sebagai stana dan parabhawa-Nya yang beraneka ragam dan beraneka fungsi. Konsep keyakinan dan pembangunan tempat suci umat Hindu di Bali, tidak terlepas dari konsep Weda yang dijabarkan di atas. Walaupun Tuhan dilukiskan berbentuk dan memiliki stana, namun hakekat-Nya adalah tunggal dan menunggal dalam alam semesta. Begitu pula dengan keberadaan Pura ulun danu Beratan yang memiliki berbagai macam pelinggih dan berbagal fungsi pemujaan dan berbagal ritual keagamaan.

Fungsi Khusus

Pura Ulun Danu Beratan memiliki beberapa fungsi yang sangat khusus dan jarang ada di Pura-pura yang lain. Adapun beberapa dari fungsi khusus Pura ini yaitu:

1. Palebahan Pura Penataran Agung

Adapun posisinya menghadap keselatan, di bagian depannya terdapat kori agung sebagai pintu masuk ke jeroan Pura dan dua buah palinggih Tugu Pengapit Lawang. Pada jeroan Penataran Agung terdapat beberapa palinggih yaitu Meru tumpang 7, berbusana serba merah, difungsikan pula sebagai pasimpangan Pura Pucak Teratai Bang, sebuah komplek Pura yang berada di areal Kabun Raya Eka Karya Bali. Di sebelah utara Meru tumpang tujuh terdapat sebuah Padma Lingga, difungsikan sebagai Pasimpangan Pura Pucak Bukit Sangkur. Di sebelah Barat Meru tumpang tujuh juga terdapat Palinggih Padma Tiga yang merupakan stana Sang Hyang Tri Purusa: Siwa, Sada Siwa dan Parama Siwa, inilah yang menjadi pelinggih pokok di Penataran Agung. Di sisi Barat Laut dari palebahan ini terdapat jajaran beberapa palinggih yaitu : Dari Barat, Taksu, Gedong Sari, Gedong Catu Mujung, Catu Meres, Gedong Simpen, Manjangan Sakaluang/Saluang sebagai palinggih Maspait atau Mpu Kuturan Purusa: Siwa, Sada Siwa dan Parama Siwa, inilah yang menjadi pelinggih pokok di Penataran Agung. Di sisi Barat Laut dari palebahan terdapat jajaran beberapa palinggih yaitu : Dari Barat, Taksu, Gedong Sari, Gedong Catu Mujung, Catu Meres, Gedong Simpen, Manjangan Sakaluang/Saluang sebagai palinggih Maspait atau Mpu Kuturan dan juga sering disebut sebagai pelinggih Ratu Pasek, Meru tumpang 3 sebagai stana Ratu Pande.

Di sebelah Selatan dari jajaran pelinggih tersebut terdapat sebuah Gedong Kereb yang disebut dengan palinggih Bala Tama dan disudut tenggaranya terdapat sebuah palinggih yang disebut Bale Ulun Kawas (Ulun Bale Agung) yang juga difungsikan sebagai pengayatan ke Pura Pucak Kayu Sugih. Di pelataran ini juga dilengkapi dengan beberapa Bale yaitu Bale Pemaruman Agung. Di belakang Pemaruman Agung terdapat sebuah Bale yang memiliki 4 balai-balai yang disebut dengan Bale Catur Lawa. Bale Catur Lawa tersebut kemungkinan dahulunya difungsikan sebagai Bale Paselang apabila upacara di Pura ulun danu Beratan memakai Upacara Mapaselang. Selain itu, terdapat sebuah Bale Agung yang membujur dari Timur ke Barat yang terletak pada sisi Selatan areal ini. Bale ini biasanya difungsikan apabila ada pendeta golongan Dwi Jati melakukan pemujaan dalam suatu upacara. Disamping itu juga terdapat bale saka kutus yang dulu memiliki balai-belai, tetapi renovasi terahir, balai-balainya dihilangkan dan juga terdapat bale sakanem yang digunakan sebagai bale pesantian. Di depan Padma Tiga dan sebelah Barat Meru tumpang 7 juga terdapat sebuah Bale Pawedan Luhur atau Pawedan Niskala Ida Bhatara Bhagawanta Niskala Pura ulun danu Beratan yang diyakini berstana di Pura Pucak Bukit Sangkur. Pada sisi Timur juga terdapat Bale Panggungan upakara piodalan. Pada sudut Timur Laut dan penataran ni juga terdapat pelinggih bebaturan atau tahta batu.

2. Palebahan Pura Tengahing Segara

Pelinggih Telengin Segara

Di dalamnya hanya terdapat dua buah banguan: (1) Meru Tumpang 11 sebagai simbol stana Dewa Wisnu dan difungsikan pula sebagai pasimpangan Bhatara di Pucak Mangu (Gunung Pangelengan), serta difungsikan sebagai palinggih Ida Bhatara Dewi Danu. Pelebahan ini juga dikelilingi oleh air danau. Dalam teologi Hindu, filosofi Meru Tumpang Sebelas melambangkan Eka Dasa Aksara (Ong, Sang, Bang, Tang, Ang, Ing, Nang, Mang, Sing, Wang, Yang) atau simbol dari Sang Hyang Eka Dasa Ludra /11 Ludra dan juga simbol dari Andabhuana (alam semesta).

3. Palebahan Palinggih Lingga Petak/Ulun Danu

Pelinggih Lingga Petak / Ulun Danu

Adapun pada areal suci ini hanya terdapat sebuah meru bertingkat tiga yang di dalamnya terdapat sebuah sumur kramat yang menyimpan tirtha ulun danu. Di dalam sumur tersebut juga tertancap sebuah lingga semu besar berwarna putih dan diapit oleh dua batu hitam dan merah. Uniknya dari bangunan ini adalah Meru dan palebahan ini memiliki 4 pintu yang menghadap ke empat penjuru mata Angin (Utara, Timur, Selatan dan Barat) bataran ‘batur’ dari meru ini persegi delapan dan seluruh arealnya terdapat di dalam danau atau dikelilingi oleh air, sehingga bila tangkil ke pelinggih ini, harus menggunakan perahu.
Secara tradisi yang diterima oleh masyarakat Hindu dan krarna subak khususnya, palinggih ini difungsikan sebagi Ulun Danu danau Beratan dalam konteks memohon kesuburan dan kemakmuran dan sebagai palinggih Bhatara Siwa dengan kekuatan Cadu Sakti-Nya yang disimbolkan dari pemedalan yang menghadap ke empat penjuru mata angin.

4. Palebahan Pura Dalem Purwa

Gedong Dalem Purwa

Keberadaan pura ini secara umum memiliki tiga buah bangunan yang seluruhnya menghadap ke Timur. Adapun pelinggih pokoknya berupa Gedong Dalem yang difungsikan sebagai stana Bhatari Durga dan Dewa Ludra atau Dewi Uma Bhagawati. Gedong ini diapit oleh Bale Murda Manik yang difungsikan sebagai pemaruman dan dikanannya tendapat bale panjang yang difungsikan untuk meletakan upakara pada saat piodalan.

5. Taman Beji

Terletak pada sisi Timur Hotel Enjung Beji, lerdapat sebuah palinggih Padma, tidak dibatasi dengan tembok panyengker. Tempat ini difungsikan untuk melakukan upacara ngabejiang dan memohon air suci pada saat piodalan dan pada sasih kesanga sebagai tempat melasti oleh masyarakat sekitar, seperti daerah Baturiti, Candikuning, Marga, Megwi dan beberapa daerah yang lain.

6. Pura Pucak Bedugul

Pura ini terletak di tepi Selatan danau Beratan Pura Pucak Bedugul juga disebut sebegai Temuku Aya ‘bendungan besar’ dari danau Beratan. Di bawah pura ini juga diyakini sebagai saluran-saluran bawah tanah yang mengalirkan air danau ke sungai-Sungai dari mata air yang ada di kawasan seletan danau, seperti Tabanan, Badung dan Denpasar. Pada musim kemarau dan air danau sedang surut, di belakang pura sering terdengar suara air dari dasar danau yang mengalir ke bawah. Pura ini terletak di Desa Pakraman Taman Tanda, Desa Batunya. Adapun yang semestinya ngempon Pura ini adalah Krama Subak yang berada di Kabupaten Tabanan bagian Timur. Subak Kodya Denpasar, dan Subak dari Kabupaten Badung. Pura ini merupakan hulu Pura Bedugul yang ada di masing-masing subak. Pura ini juga menyimpan tinggalan arca kuno yang menandakan pura ini memiliki kekunaan. Biasanya pada hari Purnamaning sasih kepitu, setelah mengadakan upacara di Ulun Danu Beratan, para Krama Subak ini melakukan upacara Mapag atau Mendak Toya di tempat dengan tujuan sawah-sawah tidak mengalami kekeringan Piodalan Pura ini pada hari Selasa (Anggara) Kliwon Wuku Julungwangi (Anggarkasih Julungwangi) juga bersamaan dengan Piodalan di Pura ulun danu Beratan, Pucak Mertha Sari dan Pucak Sari.

7. Pura Pucak Kayusugih.

Pura Pucak Kayu Sugih terletak di tengah hutan sebelah Tenggara Danau Beratan atau sebelah kanan dari jalan rute Bedugul ke Pura Puncak Mangu. Adapun yang menjadi pengemponnya masyarakat Desa Pakraman Mayungan. Jika piodalan Ageng di Pura Beratan, dimohon pula tirtha pemuput dari Pura ini.

8. Pura Pucak Taman Sebatu

Pura Pucak Taman Sebatu menupakan Pura yang terletak di Hutan sebelah utara Danau Beratan dan diempon oleh Desa Pakraman Kembang Merta. Sebelum masyarakat Kembang Merta datang dari berberapa desa di Bali. Pura ini diempon oleh masyarakat Mayungan yang diberikan wewenang oleh Puri Gede Marga. Hubungan Pura Taman Sebatu dan Mayungan, dapat dibuktikan dengan adanya PeIinggih Rare Angon di Pura Pucak Taman Sebatu dan Pura Pengangon di Desa Mayungan. Berdasarkan beberapa informan dulu masyarakat Mayungan sering melakukan upacara piodalan di Pura Taman Sebatu. Oleh karena satu hal, pelinggih Rare Angon ini dipindah ke Desa Mayungan.

Ulasan